by:Rafa Aulia Rizqia
(Mahasiswi STEI SEBI, Depok)
Singkatnya, FOMO atau Fear Of Missing Out adalah rasa takut merasa “tertinggal” karena tidak mengikuti aktivitas tertentu.
Ketika kita melihat teman yang lain sedang menikmati matahari jingga di restoran yang sedang naik daun dan menelusuri postingan-postingan yang terlihat sangat menyenangkan lainnya kegelisahan pun bertambah, emosi jadi sulit dijelaskan rasanya seperti campur antara rasa dikucilkan, benci diri, iri hati dan perasaan aneh yang semakin umum dikalangan pengguna media sosial. Fenomena sikologi ini adalah fomo, fomo adalah kecemasan terus menerus ketika tahu orang lain sedang mengalami hal yang menyenangkan dan kita tidak ada disitu atau tidak terlibat didalamnya. Demi menghilangkan perasaan tidak nyaman ini ia bisa meninggalkan apa yang sedang dilakukannya dan menghabiskan waktu lebih lama dimedsos demi mendapatkan perasaan bergabung, fomo membuat kita fokus dengan apa yang terjadi diluar sana daripada sepenuhnya hadir dalam pengalaman yang ada didepan mata.
Menurut the school of life kita bisa melihat fenomena ini dari 2 cara pandang romatik dan klasik, bagi ia yang romantik merasa ketinggalan sangatlah menyakitkan, ia percaya bahwa diluar sana ada suatu tempat dimana orang-orang berkelas dan menawan menjalani hidup, orang romatik akan merasa sangat bahagia ketika ia menjadi bagian dari itu, seeprti bekerja disebuah perusahaan terpandang, berlibur ketempat eksotis nan ekslusif dan berada dilingkungan orang-orang terpilih. Dia menganggap mereka yang bekerja di kota kecil atau menikmati liburan secara sederhana itu sangat membosankan maka dari itu orang romantik cenderung menghindari mereka yang tidak terlihat glamor atau yang di nilai kurang berambisi, oleh sebab itu orang romantik lebih rentan fomo, sementara orang klasik tidak melihat kemewahan sebagai indikator sesuatu itu memukau, baginya novel terbaik bisa saja bukan terletak dirak best seller, melainkan bisa saja ditulis seseorang ditempat terpencil dan terlihat biasa saja. Orang klasik sadar betul kwalitas bisa hadir dalam hal atau orang yang terlihat biasa, bahwa kualifikasi akademis tidak selalu berbanding lurus dengan kecerdasan seseorang, bahwa orang tidak terkenal bisa sangat luar biasa, ia tau dipesta paling mewah dengan deretan tamu terpandang pun ada dari mereka yang merasa sedih dan cemas , tapi jangan salah, orang klasik juga bisa fomo, tetapi jenisnya lain, mereka takut melewatkan kesempatan mengenal orang tua mereka, menghargai kekuatan alam dalam menenangkan hati, dengar celotehan lucu seorang anak kecil, dan lain sebagainya.
Apa penyebab fomo?
Fomo itu sendiri memiliki sebab, penyebabnya kemungkinan besar adalah ponsel, ponsel memudahkan kita untuk selalu tau apa yang terjadi diluaran sana, kita bisa cek cuaca baca berita, tau tentang suatu peristiwa dimana pun kapanpun, tapi dengan mengetahui begitu banyak hal diluaran sana juga bisa melahirkan perasaan takut kelewatan atau ketinggalan pengalaman penting yang menyenangkan.
Fomo memang bukan hal yang baru, pada zaman dahulu fomo dipicu oleh halaman koran yang didatangkan sehari sekali atau foto-foto wisata dan pesta di album waktu berkunjung kerumah teman. Di zaman sekarang fomo bisa dipicu dari media sosial, medsos memudahkan kita untuk melihat apa yang semua teman atau keluarga kita lakukan sepanjang waktu, orang yang sering menggunakan medsos paling rentan kena fomo, orang yang fomo cenderung sering memeriksa beranda medsos teman dan keluarga agar tidak terlewat apa yang terjadi dalam hidup mereka, tapi seseorang juga bisa menjadi fomo ketika terus menerus tergoda notifikasi atau umpan medsos orang lain yang menunjukkan orang lain melakukan hal luar biasa sepanjang waktu.
Penelitian juga menunjukkan fomo rentan terjadi pada mereka yang merasa kesepian, terisolasi, punya pandangan negatif tentang diri sendiri sehingga rendah diri dan kurang mencintai dan menerima diri, fomo berdampak negatif pada suasana hati dan tingkat kepuasan hidup, orang yang memiliki tingkat kefomoan tinggi cenderung lebih despresif, merasa cemas serta bermasalah dengan tidurnya dibandingkan mereka yg fomonya rendah .
Bagaimana mengatasi fomo?
Diantara cara mengatasi fomo adalah sebagai berikut :
- Kurangi waktu main medsos secara signifikan, coba cuti seminggu penuh dari medsos, jika merasa jiwa lebih sehat dan mental lebih nyaman dengan kebiasaan ini silahkan dilanjut. Semakin tidak terikat dengan ponsel atau medsos semakin jauh juga dari fomo.
- Ubah titik perhatian anda, kurangi fokus pada apa yang tidak ada dalam hidup dan kuatkan fokus pada hal baik yang sudah ada dihidup kita.
- Tumbuhkan belas kasih terhadap diri sndri, ketika anda terhubung dengan diri, anda akan lebih bisa menerima diri, dan tidak lagi sibuk dengan membandingkan diri dengan orang lain.
- Interaksi dengan orang lain secara teratur bukan dimedsos, pertemuan tatap muka secara langsung atau video call menghadirkan interaksi dan hubungan yang lebih kompleks dan nyata, ini mengurangi perasaan kesepian yang ada.
Waktu kita terbatas dalam hidup ini, kita bisa cari bahagia dari apa dan siapa yang ada disekitar kita, dengan begitu maka kita akan merasa puas dengan kehidupan yang dimiliki sekarang.