by: Rafa Aulia Rizqia
(Mahasiswi STEI SEBI, Depok)
Kemana pun kita pergi terkadang kita lupa bahwa musuh terbesar dalam diri kita sendiri yaitu ego. Ego yang dimaksud disini adalah ketika kita merasa lebih baik atau lebih unggul daripada orang lain dengan kelebihan yang kita punya, kepentingan kita jauh lebih penting. Orang yang memiliki ego ini punya kepercayaan semacam dirinya yang lebih penting diatas segala-segalanya secara berlebihan .
Mengendalikan ego itu penting.
Dalam kehidupan sehari-sehari kita sering mengganggap kepentingan pribadi diatas segala, sehingga kehilangan empati pada orang lain. Padahal sulit mengendalikan ego itu bisa menghambat kesuksesan.
Kegagalan hadir untuk melatih ego kita, kegagalan adalah cara kita untuk mengembangkan diri, ketika kita gagal itu merupakan proses kita untuk belajar hal baru. Permasalahannya ego ini sering menghambat kita untuk mengakui bahwa kita gagal dan kita jadi sulit untuk mencoba lagi karena sudah terlanjur ego yang memenangkannya. Kunci dalam mengendalikan ego adalah kerendahan hati, karena jika kita tidak punya kerendahan hati maka kita merasa paling bisa, paling penting dan kita yang paling berharga diatas segala-segalanya. Maka kerendahan hati itu penting karena merupakan proses untuk belajar hal baru.
Kenapa ego bisa menghancurkan kita?
Diantara sebab ego bisa menghancurkan kita adalah :
- Sulit menerima masukan, ternyata mendapatkan kritik itu tidak mudah, kita jadi merasa dikritisi, merasa paling salah, atau merasa paling bodoh, padahal sebenarnya pada saat menerima kritikan kita sedang belajar untuk bisa menerima bahwa citra diri yang kita tampilkan tidak selalu harus sempurna.
- Tidak bisa memaknai kegagalan dengan baik, mungkin kita akan merasa terbatas karena kita sudah pernah gagal dan kita tidak mau coba lagi, terus belajar ini salah satu kuncinya, untuk bisa paham jika kita tidak mau mengendalikan ego lama- kelamaan kita bisa hancur atas apa impian yang mau kita capai.
- Merasa terbatas secara kreativitas dan inovasi, orang yang egonya sangat besar akan sulit menerima suatu perubahan, jadi kreatifitasnya terhambat atas masukan-masukan atau inovasi yang terjadi diluaran sana, dalam pikiran nya kreativitas itu sebatas yang dia rasa bagus yang dia rasa pas, jadi inovasi tidak akan muncul bagi mereka yang ego nya terlalu besar.
- Kesulitan menerima kesusksesan orang lain itu ternyata tidak mudah, orang yang egonya terlalu besar ketika melihat orang yang sukses dia merasa dirinya lebih pantas dibanding orang lain, nah ini yang menghancurkan kita seolah kesuksesan orang lain bukanlah sesuatu yang dia dapatkan dengan proses yang panjang, jadi akan muncul rasa iri, dan berfikir bahwa yang pantas mendapatkan kesuksesan itu bukanlah orang lain. Efek yang terjadi dari hal itu kita jdi gampang stress melihat orang lain senang dan gampang senang liat orang lain susah.
- Ego yang terlalu besar membuat sulit membangun relasi dengan orang lain, hal ini bisa membuat kita jadi orang yang tidak bisa bahagia dalam hidup dan bahkan kita merasa sendirian dalam kehidupan ini.
Dalam kehidupan manusia akan menghadapi 3 fase kehidupan
Fase pertama yaitu fase aspiration , fase dimana seseorang sedang berjalan menuju impian atau tujuan hidupnya, tapi karena ego maka proses pencapaian aspirasi dalam hidupnya jadi terhambat.
Bagaimana cara agar orang bisa mencapai aspirasi hidupnya? Krena aspirasi ini adalah fase pertama sebelum menuju sukses, dimana sukses akan menuju satu titik kita mungkin akan gagal.
- Membangun ambisi yang sehat,
aspirasi menjadikan kita lebih sehat jika kita bisa membangun ambisi yang sehat, kadang Ego yang tinggi akan membuat kita jadi sulit untuk set aspirasi itu, kenapa? karena ego membuat kita terperangkap dalam tujuan-tujuan yang sifatnya temporer, seperti pengakuan ketenaran, kekayaan, tidak salah sebenarnya jika kita mau mendapatkan itu semua tapi kalo itu terlalu tinggi khawatir nya kita ga sampai ketujuan dan kita jadi lupa bahwa ambisi yang sehat harus disertai kebermaknaan, kebermanfaatan yang sifatnya tidak akan terukur dengan apapun, tapi kalo sesuatu yg sifatnya kekayaan ketenaran itu tidak akan pernah cukup makanya penting untuk membangun ambisi yang sehat. - Belajar dari orang lain
Ketika ada di fase aspirasi ini perlu belajar dari orang lain, kadang musuh terbesar ego ini adalah ketika kita sulit mengakui kesusksesan orang lain. - Mengatasi rasa paling spesial, rasa spesial ini bisa dirasakan oleh semua orang dan wajar memiliki perasaan tersebut, tapi kalo ego terlalu tinggi dan berlebihan seolah kita jadi lupa bahwa kita bukanlah satu-satunya orang spesial didunia ini, pada akhirnya menjadikan diri kita sombong, jadi sulit menghargai orang lain dan sulit mmberikan respect pada orang disekitar kita.
- Membuat ekspetasi yang realistis, ego ini kadang mendorong seseorang untuk merasa kurang terus, akhirnya ekspetasi terlalu tinggi dan kita jdi sulit mencapai titik sukses dari proses mencari aspirasi dalam hidup.
Fase kedua adalah fase sukses, fase yang sering berbenturan dengan ego, fase dimana seseorang telah berhasil mencari tujuan atau keinginannya. Yang harus kita lakukan dalam fase ini adalah
- Menjaga kerendahan hati kita pada kesuksesan itu, jangan pernah lupa bahwa tercapainya kesuksesan itu bukan karena kita sendri tapi dibantu dengan orang-orang disekitar kita, karena mungkin kemudahan yang kita dapat itu berkat doa orang dan bantuan orang lain, ini salah satu cara kita mengelola ego kita disaat kita sukses
- Berhati-hati ketika mencapai kesuksesan dengan cepat, kesuksesan yang cepat maka ego yang dibenturkan semakin tinggi karena dia merasa cepat puas dan gamau belajar lagi, sukses bisa menghancurkan diri kita jika kita tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan ego.
- Pelihara nafsu dan rendah hati, terhadap ilmu baru pengetahuan dan pengalaman baru, jadi kita terbuka atas sesuatu yang mungkin tidak biasa tapi kita terus berjalan menuju aspirasi hidup yang kita punya.
Fase ketiga fase kegagalan, saat gagal kita berhadapan langsung dengan ego terbesar kita, seolah kita selalu berusaha menyalahkan keadaan dan yang paling parah adalah pada saat gagal kita tetap sombong. Orang sombong ketika gagal akan menyalahkan orang lain dan keadaan, seolah dia tidak terima dengan kegagalan tersebut dan kegagalan yang dia hadapi itu musuh terbesar yang paling membuat dia merasa gengsi jika ada orang lain yang tau kalau dia gagal, maka dari itu kita harus melihat kegagalan sebagai peluang untuk belajar hal baru. Ketika kita punya ambisi, energi terbesar kita habis untuk mengendalikan ego, ego ini yang mungkin dimiliki oleh diri kita sendiri adalah musuh terbesar kita bukannya orang lain, kadang ego ini muncul pada saat kita sukses dn pada saat kita berhasil, ego terbesar adalah pada saat kita memiliki arogansi terhadap ego yang kita punya seolah itu menjadi konsep dalam menjalani kehidupan.
Banyak orang yang pintar secara akademis tetapi tidak mempunyai kerendahan hati dalam mengelola ilmu yang dia punya hal itu terjadi bukan karena dia tidak bisa tetapi karena dia gagal untuk mengenali dan mengendalikan egonya, semakin kita belajar sesuatu semakin kaya ilmu kita semakin tinggi cara kita bicara dengan ego yang ada dalam diri sendiri. Musuh terbesar diri adalah pada saat ego kita terlalu tinggi untuk menerima sukses dan gagalnya diri kita dan sukses dan gagal nya orang lain sehingga kita tidak tau aspirasi tebesar diri kita itu apa.
Jika masih sulit mengenali dan mengendalikan ego yang kamu punya, coba kenali lagi egomu ajak dia bicara kendalikan dia untuk menghadapi sukses dan gagal dalam kehidupan.