Secara sederhana, konsep Learn to unlearn berbicara mengenai kemampuan kita untuk beradaptasi, menyesuaikan pemikiran, pengetahuan, dan keseluruhan diri kita pada perkembangan ilmu pengetahuan, perkembangan teknologi dan perkembangan zaman secara keseluruhan. Dalam hal ini yang dimaksud learn itu sendiri yaitu bahwa dalam mempelajari hal baru, yang harus dilakukan pasti dengan mempelajari sesuatu secara fokus. Karena, kalau kita tidak belajar, atau kita belajar tapi ala kadarnya dan cuma sambil lalu ya berarti itu namanya bukan belajar. Belajar itu harus fokus supaya apa yang kita pelajari bisa benar-benar terserap ke dalam otak kita dan bisa di ingat untuk jangka waktu yang lama.Unlearn yaitu kita melupakan apa yang sudah kita tahu. Melupakan hal yang udah kita pahami itu pasti bikin kita tidak nyaman. Unlearn ini penting karena ketika kita mengulangi hal yang sama, kita menganggap itu sebuah rutinitas yang kita sudah tahu jawabannya. Pikiran kita jadi menolak ide baru, kita merasa otak kita itu sudah penuh dengan kepintaran, pengetahuan serta pemahaman yang kita punya, sampai enggan untuk mendengarkan apa yang dikatakan orang lain.Padahal, di masa depan, teori dan ilmu itu dinamis. Bisa berubah kapan saja. Kalau kita terpaku sama rutinitas dan tidak mau berubah, mempelajari hal baru bakal jadi persoalan yang susah buat kita.Maka dari itu kita perlu mempelajari how to learn to unlearn. Dengan cara melakukan pembelajaran kembali dengan pikiran yang terbuka. Otak kita diibaratkan tempat penyimpanan data yang sudah penuh yang didalam nya terdapat banyak informasi, pengetahuan, keterampilan dan lain sebagainya yang kita yakini hal tersebut merupakan sebuah kepintaran yang kita miliki, karena sudah penuh maka sesekali ada yang perlu kita keluarin, ada yang perlu kita ambil mana yang berkarat mana yang tidak terpakai atau bahkan tidak relevan, tujuan nya untuk mempelajari skill baru.Kita harus berani mengatakan “Bisa jadi saya salah, Saya belum tau, Saya belum bisa, jadi saya butuh bantuan orang lain.Sehingga dengan begitu kita tidak memiliki sifat kepedean atau “Over Confident”Salah nggak si punya sifat “Overconfident”?Tentu tidak, ternyata itu adalah pertanda bagus artinya kita punya yang namanya “Self Awareness” yaitu kemampuan berfikir kita memahami tentang apa yg kita pikirkan, asalkan tidak dibarengi dengan sifat sombong yang menjadikan pikiran kita tertutup (Close minded), jadi pikiran kita harus terbuka dan gunakan kerendah hatian kita untuk mendengarkan opini orang lain,Nah dengan begitu akhirnya kita bisa berkolaborasi pada lingkungan kita dengan baik, diibaratkan seperti air, ketika dia rendah justru itu merupakan kekuatan dia yang paling kencang dan ketika dia memberikan arus yang deras disitu dia bisa harmonis dan terbuka dengan alam,Jadi ketika kita menurunkan ego kita dengan kerendahan hati kita, semakin kita punya pengetahuan yg tinggi kita, justru makin banyak pula yang harus dicari tau, dan kita bisa lebih harmonis dengam lingkungan kita, kita bisa diterima bisa lebih fleksibel.Bahwa Ada banyak hal yang belum kita tau semua, yang belum kita dengar semua, yg belum kita lihat semua, maka dengan kita membuka pikiran kita, membuka hati kita, membuka mindset kita, kita akan akan menjadi orang yang beruntung, artinya ilmu yang kita punya itu relevan dengan perkembangan zaman apapun dan siap menghadapi transformasi yg ada.Apalagi sebagaimana kita ketahui bhwa ilmu Allah itu sangat lah luas. Hamparan alam yang terbentang di daratan dan di lautan bahkan ruang angkasa tak pernah kering untuk dibaca, diteliti, dan ditulis. Kemampuan manusia lah yang terbatas untuk memahami kedalaman ayat-ayat Allah yang tersurat dan tersirat di alam semesta. Andaikan lautan menjadi tinta dan pepohonan menjadi pena, tetap tidak akan cukup untuk menulisnya (QS. al-Kahfi:109, Luqman:27)Dengan kata lain belajar itu sepanjang hayat, hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW yang artinya “Tuntutlah ilmu sejak dari ayunan sampai ke liang lahat” (HR. Ibnu Abdul Bar).Hadits ini merupakan landasan bagi proses pendidikan islam bahwa proses pendidikan Islam berlangsung sepanjang hayat, dimana dalam perspektif Islam adalah pendidikan atau proses belajar yang dilakukan secara terus menerus berkesinambungan sejak anak dalam kandungan sampai meninggal dunia untuk memperoleh kehidupan yang makmur dan bahagia didunia dan diakhirat.
by : Rafa Aulia Rizqia
Mahasiswi Aktif STEI SEBI, Depok