@aimanuhuy23@gmail.com
Secara umum, kita mengenal Bill Gates sebagai pendiri Microsoft dan salah satu orang terkaya di dunia. Namun lebih dari itu, Bill Gates juga merupakan salah satu orang paling dermawan di muka bumi ini. Lebih dari Rp500.000.000.000.000 donasi yang telah dikeluarkannya. Ya. Nol-nya 14, saudara-saudara. 500 triliun rupiah bacanya. Angka yang dapat membuat 7,8 miliar penduduk bumi ditambah 2,2 miliar penduduk Bikini Bottom, Konoha dan Asgard untuk berkarya dan menerbitkan buku melalui program GSMB Nasional dari Nyalanesia.
Kabar terakhir, Gates berencana untuk memilih keluar dari deretan 5 orang terkaya dunia dengan cara mendonasikan 300 triliun hartanya untuk membantu kesehatan dan pendidikan dunia.
Bill Gates adalah pembaca yang tekun, penulis yang setia, dan pecinta pendidikan yang paripurna. Meski sangat ahli mengembangkan teknologi yang memudahkan kita untuk belajar, Gates tetap percaya bahwa peran guru adalah yang terpenting untuk memajukan pendidikan di dunia. Dalam hal tersebut, Gates dan Nyalanesia memiliki keyakinan yang sama.
Oleh karena itu, meski sekolah-sekolah yang mengikuti program GSMB Nasional akan difasilitasi Nyalanesia untuk belajar melalui platform Nyalaakademi dan dibuatkan secara gratis website literasi sekolah yang selaras dengan program literasi digital, Nyalanesia tetap menempatkan guru di titik paling vital.
Guru Koordinator, di program GSMB Nasional, berperan penting dalam mendistribusikan fasilitas dan pengetahuan serta membangun orkestrasi antara siswa, guru dan kepala sekolah, untuk belajar, berkarya, berlomba serta mengikuti seluruh rangkaian acara yang telah disiapkan Nyalanesia.
Sedangkan untuk mengampanyekan sekaligus memberikan edukasi tentang pentingnya literasi di berbagai provinsi, Nyalanesia mempercayakan peran tersebut pada ratusan guru yang tergabung dalam komunitas Penggerak Literasi.
Tidak peduli seberapa hebat kemajuan teknologi, peran guru selamanya tidak akan terganti. Guru-guru yang bisa ditinggalkan dan dilupakan, hanyalah guru-guru yang berhenti belajar, enggan berkontribusi, lumpuh dalam karya, dan tidak benar-benar jatuh cinta pada anak-anak dan pendidikan.
By : Aiman
Mahasiswa Aktif STEI SEBI Depok